Jutek dimana-mana memang membuat mood semakin buruk. Dan yang terburuk bisa membuatmu melakukan hal-hal absurd di dunia.
Belakangan ini hal di dunia per-bloggingan yang baru-baru ini kugandrungi adalah membaca blog-komik.
Ternyata ada banyak blog bergambar yang ceritanya lucu-lucu dan nyentrik.
Aku bahkan menemukan salah satu blek blog Komik jokes ala Amerika:
Kalau kalian lihat, bagaimana bisa dia berpikir untuk membuat gambar seorang gadis melakukan atraksi Ski yang cantik seperti itu dengan wajah cemberut (yang alasannya bisa kalian lihat pada komik strip Octupus Pie). Aku bisa membayangkan bagaimana wajah jelekku di mata teman-temanku tak peduli apapun yang kulakukan, yang terpancar adalah "jutek".
Jutek? Yups. Sebagaimana makhluk sakit hati lainnya di dunia ini, tak ada hal lain yang biasa kuekspresikan kepada dunia kecuali wajah jutek dan tampang kucel. Semua diseriusiiinnn dan kemudian cairan tubuh berleleran di wajah *jelek banget*. Bahkan ada kejadian yang sebenarnya se-absurd rasa sakit hati itu sendiri.
Suatu pagi yang kebetulan sedikit mendung semendung hatiku dengan semangat lebay mode: "ON". Aku masuk ke dalam mobil dari pintu kiri (esaaayyy). Nah, di sebelah kananku adalah teman kantorku. Karena hatiku mendung dengan berbagai latar belakang dan kejadian yang tidak bisa disebutkan di sini satu-persatu, akhirnya aku memalingkan muka ke jendela untuk menghindari wajah korsletingku disadari oleh dunia. Dan sesekali menjawab candaan dengan nada menyebalkan. Nah, di bagian talang kaca mobil bagian penumpang kiri rupanya ada seekor laba-laba yang mungkin ada kondangan di deket kantorku sehingga dia nebeng mobil kantor.
Sebagai penumpang gelap pastilah dia tidak mendapat kursi empuk (dan mungkin juga karena dia masih ada rasa sungkan pada para manusia yang biasanya lihat makhluk sejenisnya bakal heboh dan sibuk menginjak tubuhnya yang malang (untunglah rombongan satu mobil kantor tidak akan melakukan hal tersebut karena cerita ini bukan sinetron). Aku perhatikan dia merajut benang di talang itu dan duduk dengan sabar di sana. Nah, seiring dengan berjalannya mobil, tubuh mungil laba-laba itu terguncang hebat ke kanan dan ke kiri. Tapi dia tetap bertahan di sana. Kadang dia memukul talang dengan kuat dan cepat bagai pendulum yang diayunkan, kadang pelan, sesuai dengan kecepatan mobil.
Entah kenapa saat mengamati laba-laba itu dan muncul filosofi di kepalaku. Manusia harusnya setegar laba-laba yang terus berjuang meskipun dera angin menghempaskan tubuhnya tanpa ampun. Semangat juang sang Laba-laba sangat kukagumi. Juga bagaimana kualitas benangnya yang begitu kuat dan membantunya untuk tetap berada di sana.
Namun, aku kemudian kecewa. Selang sepuluh atau seperempat jam sejak aku masuk mobil, laba-laba itu akhirnya terbang. Entah terlepas atau melepaskan diri. Dan (inilah yang kusebut dengan "hal absurd yang seharusnya tidak kau lakukan di depan umum": Aku meneteskan mata. Byuhbyuh. Kenapa seekor laba-laba bisa membuat hati seseorang jadi mencelos?
Ada hal yang kulihat negatif dan juga positif dari situ. Meskipun tidak penting-penting amat tapi akan tetap kutulis di blog ini.
- Cons (kutulis lebih awal karena hal ini yang lebih menjembatani dengan kisah lautan cairan tubuh sebelumya): Sekuat apapun kau mencoba bertahan bila memang bukan untukmu kau akan terseleksi oleh alam. Ide ini muncul dan aku merasa sangat menderita karenanya. Suatu pikiran negatif yang seharusnya tidak disimpan.
- Half Pros: Bila kau sudah mencoba untuk bertahan namun kamu akhirnya menemukan titik buntu ada baiknya kau mencoba untuk melepasnya dan mencoba hal lainnya. Ide ini agak baik tapi aku masih kurang menyukainya dan perasaanku masih bercerai-berai.
- Pros: Mungkin kau memang harus melepaskan hal itu tapi masih ada cara lainnya untuk membuatmu mencapai tujuan itu. Tapi saat itu ide ini belum muncul dan yang terjadi adalah perjalanan berangkat kantor paling muram yang pernah kurasakan.
Permasalahan berikutnya adalah bagaimana menyembunyikan wajah miserable-mu kepada dunia di saat dunia sudah tidak adil padamu? Dan hal itu menjadi hal absurd yang berikutnya.
Sepanjang jalan hingga kantor aku harus memalingkan wajahku ke jendela untuk menghindari temanku melihat air bah itu. Dan sodara-sodara, kurasa aku tidak berhasil menyembunyikan hal itu meskipun teman kantorku tidak mengucapkan apapun. Walhasil: hari itu aku masuk kantor dengan leher kaku (yang bertahan selama 3 hari) dan rasa malu karena teman kantorku memergokiku menangis. Remang-remang aku bisa mendengar suara Popeye di telingaku "Sempurna Olive".
Hari itu aku mengambil pelajaran:
"Kalau kamu memang pingin nangis, nangis aja di rumah, daripada ketahuan di depan publik. Karena bisa merusak citramu :D.
"Kenapa kau bersedih? Bukankah Allah selalu ada sebagai tempatmu mengadu?"
Salam Akhir Pekan (yang juga diselimuti mega).